Donor Asi Untuk Bayi Prematur

Awalnya khawatir tak bisa memberikan ASI, ternyata produksinya malah berlimpah. Jadilah ia donor ASI untuk bayi-bayi yang membutuhkan. Mendekati persalinan, Wenda, panggilan akrab dokter spesialis anak untuk calon buah hatinya. Ia dan suaminya, Sarwendah (26), sudah me ncari Ruben Onsu (32), berkonsultasi soal laktasi pada spesialis anak tersebut. “Sebab, kami ingin memberikan ASI eksklusif,” ungkap Wenda.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Akan tetapi, menurut pengakuan Wenda, sang dokter malah pesimis produksi ASI-nya akan lancar. Tubuhnya yang kurus menjadi alasan. selain itu ada juga masalah kekurangan protein dan perdarahan akibat plasenta menutup jalan lahir yang dialaminya. “Mas Ruben langsung cari donor ASI buat calon anak kami karena ia juga tidak mau memberikan susu formula,” kata Wenda. Keinginan untuk melahirkan secara normal pun gagal, Wenda harus menjalani operasi sesar, karena dikhawatirkan terjadi perdarahan hebat akibat plasenta yang menutup jalan lahir.

Yang ia dengar, operasi sesar bisa membuat keluarnya ASI jadi tidak terlalu lancar. “Tapi, saya santai saja, apa pun yang terjadi tidak masalah,” ucap Wenda. Ajaib! Sesaat setelah si buah hati lahir, ternyata kolostrum langsung keluar dan ASI pun melimpah. Bahkan, saking melimpahnya, ASI terpaksa dipompa. Wow! Ketakutan tak bisa memberi ASI eksklusif pun sirna. “Dalam sehari, saya bisa stok ASI minimal 4 kantong plastik yang lalu dimasukkan ke dalam freezer. Alia sendiri menyusu langsung dari payudara, tidak dari stok ASI perah.” Lama-kelamaan freezer–nya penuh, bahkan butuh sampai tiga freezer untuk menyimpan stok ASI-nya.

Wenda dan Ruben pun sepakat untuk membagikan ASI perah yang melimpah. Setelah diperiksa kesehatan dan dinyatakan bagus, Wenda pun “lulus” sebagai donor ASI. “ASI saya dipakai untuk bayi prematur dan bayi usia di bawah 6 bulan,” ujar Wenda. Untuk itu, ia mensyaratkan beberapa kriteria untuk bayi dan ibu yang memerlukan ASI dari donor: si bayi memang benar-benar butuh ASI dan ibunya memang kesulitan menghasilkan ASI, bukan karena malas apalagi tidak mau menyusui.

Sumber : https://ausbildung.co.id/